dadang kurniawan

LIFE / MOMENT

You were always on my mind

Suara hujan bergemeracak mengalir di atas atap, berselebrasi merayakan tumpahnya dengan ruah dan riuh bergemuruh setelah sekian lama dikandung langit dalam gumpalan awan-awan hitam yang beriringan melayang diatas awang. Berteriak gemericik menitik-nitik bumi dengan begitu derasnya, membelah kesunyian malam dan membasahi genteng-genteng yang pasrah menerima nasib dihajar hujan, membasahi jalanan-jalanan kering yang tiada lelah dibantai manusia-manusia berkendara dengan berbagai macam aktifitasnya, membasahi tanah-tanah kering yang haus diresapi air-air dingin dan menjadikanya gembur dan membasahi hati-hati para warga jakarta yang dilanda sepi dengan kenanganya. menemani gelap malam ini yang ditinggal lelap oleh para penghuninya yang menjadikanya semakin syahdu.

***

aku masih berkutat dengan berbaris-baris kode program, melirik tiap method dan functions kiri-kanan atas-bawah yang bergaris merah pada layar text editor kesayangan, dengan sigap aku mengadu jemari dengan tuts-tuts yang mulai lengket dengan sisa remah cemilan diujung jari dan debu disela-sela keyboard yang betah bersarang karena jarang aku bersihkan, mataku masih menatap tajam dan melirik barisan tab pada browser yang sudah tak terlihat lagi judul informasinya, menunggu dengan sabar untuk aku close karena merasa sudah tidak lagi berfaedah karena aku tidak memperdulikanya. Tetikus bergerak dengan lincah menuruti kehendak tangan yang aku gerakan, menatap sabar pada tab-tab tak bertitle untuk aku tunggui kemunculan tooltip-nya.

Tell me, tell me that your sweet love hasn’t died
Give me, give me one more chance
To keep you satisfied
I’ll keep you satisfied
~ You were always on my mind – elvis presley

Mendadak aku sadar, bukan hanya gemeracak suara hujan yang menemaniku malam ini, telingaku dari tadi asik kolokan dengan suara syahdu bariton dari elvis yang aku setel dari spotify, aplikasi dekstop pemutar music saat ini, judul lagunya Always On My Mind, lagu yang menjadi pavoritku saat sekolah menengah kejuruan dulu, aku tau lagu itu karena sering mendengarkan acara tembang kenangan setiap malam senin di RCTV (radar cirebon televisi) stasiun televisi regional yang berbasis di cirebon.

***

Suatu hari ketika aku berkunjung ketempat Hendra di daerah tegal kelapa semasa sekolah menengah kejuruan dulu, dia melemparkan MP3 usang yang sudah tidak digunakanya lagi sambil berkata “pake ente matt!”  dengan bahasa sunda yang diucapkan dengan aksen indramayu medok khas-nya yang artinya “buat kamu matt!”.

Aku menerima mp3 itu dalam keadaan yang sungguh memprihatinkan, sekilas aku enggan menerimanya saat dia bilang MP3 itu buatku dan aku malah lebih suka untuk membuangnya ditempat rongsokan belakang tempat kost yang aku tinggali sehingga MP3 itu lebih berguna dan memberi nilai tambah untuk para pemulung yang menemukanya.

mp3 itu memiliki kapasitas penyimpanan file sebesar 312 Mb, warnanya biru laut dan warna perak pada pembatas pinggirnya, Aku akan merasakan karatnya saat meraba tubuh MP3 yang sudah semaput itu, warna pada tombol play-fause-nya sudah terkelupas pudar, sedangkan dua tombol lain untuk memberi perintah memutar lagu sebelum dan selanjutnya juga tidak lagi dikenali, hanya ada sisa-sisa cat yang seharusnya bertuliskan prev dan next. tombol powernya juga sudah hilang entah kemana, memperlihatkan isi perut dari MP3 itu, seperti hendak menyetrum jika dipegang oleh ujung jari dan menyentuh kulit.  Aku perlu mencolok-coloknya menggunakan pinset atau gunting untuk menyalakan atau mematikanya. aku pernah tertusuk ujung jarum yang tajam saat mencoba menyalakanya karena aku tidak menemukan gunting maupun pinset disekitarku. jika berhasil memindahkan switch dalam posisi on, layar MP3 itu akan mengeluarkan cahaya kuning seperti layar hp Nokia 6150 selaras dengan warna tombolnya, aku bisa melihat lampu yang menyala itu karena warna dari tombol yang terkelupas dan menjadikanya transparant. jadilah MP3 itu seperti mayat yang bangkit dari kubur dengan bantuan pinset dan gunting atau sebuah jarum yang berhasil memindahkan tombolnya keposisi “ON” dengan cara dicolok.

MP3 itu berfungsi dengan baik, seperti bahagia mendapat hidup baru dan kembali  dapat bermanfaat untuk memberikan kesenangan bagi tuan barunya. ya, aku senang sekali, aku seperti mendapati teman untuk mengusir sepi.

aku mulai sering menyetel lagu dari MP3 itu, memasukan lagu-lagu kegemaranku, yang sengaja aku donwload dari website secara gratis atau meng-convertnya dari youtube kedalam format mp3, elvis presley, the beatles, the bee gees, aha atau band-band british rock lainya. adalah tracklist yang paling banyak aku masukan. aku sudah tidak lagi memandang usang pada MP3 itu, malahan aku menganggapnya menjadi sebuah hadiah yang harus aku syukuri, seolah aku telah mendapatkan kehidupan yang sempurna, tidak ada hal lain lagi yang aku pikirkan, aku hanya ingin berdua dengan MP3 kesayanganku dan bersenang-senang dengan imajinasi pikiran yang terbawa oleh alunan syahdu lagu-lagunya.

aku selalu mengakhiri hari dan menutup mata di tengah malam ditemani MP3 itu, sering kali aku terlelap dalam tidur dengan headset yang masih menempel di kuping, ketika bangun, aku mendapati batre MP3 itu habis dan kupingku sakit karena tertindih bola kepala dan menekan earphone yang masih menyumpal lubang kupingku sepanjang malam. hasilnya, aku harus menahan sakit sepanjang siang. tapi aku tidak pernah kapok, aku sering kali melakukanya berulang-ualng dan merasakan hal yang sama ketika siang.

High hope, lagu dari pink floyd yang membuatku berpikir betapa menyenangkanya melanjutkan hidup dengan segala dunia yang diimajinasikanku sendiri, aku hanya cukup mensyukuri segala hal-hal yang terlah terjadi, aku meyakini serangkaian kejadian dalam setiap hidup manusia adalah demi membentuk manusia itu sendiri. aku mensyukuri aku masih memiliki teman, bukan seseorang, tapi dalam bentuk lain, bentuk yang kurang masuk diakal, tapi benar, bentuk lain itulah yang selalu menemaniku dalam banyak hal, dalam banyak suasana dan karenanya aku tidak perlu lagi merasa sepi melihat kehidupan yang ramai namun membiarkan manusia-manusianya tidak saling mengetahui.  

***

sekarang, mp3 itu sudah tidak lagi aku gunakan, sejak aku memiliki telepon genggam berfitur mp3 player yang lebih canggih, aku juga tidak perlu lagi mencolok-colok button power untuk mematikan atau menghidupkanya, aku bisa memasukan lebih banyak lagu kedalam HP dibanding mp3 usangku dulu.

***

kemudian aku disadarkan kembali dari lamunan mp3 usang yang pernah menjadi benda kegemaranku dulu. sungguh, malam ini aku jadi semakin merindukan mp3 usang ku itu, merindukan teman yang telah menemaniku melewati waktu, teman yang telah membantu dalam kehidupan remajaku dulu, saat susah dan senang, saat gamang dan pecicilan, mp3 itu satu-satunya teman yang ada, yang selalu aku bawa kemana-mana, menghibur lewat lagu-lagu terbaik di tracklist-nya. aku telah menelantarkanya, membiarkanya terpuruk dalam kesepian, melupakan seolah dia hanya benda yang aku gunakan hanya untuk menghibur dan menyenangkan demi keegoisan, aku telah mengembalikanya kedalam masa-masa ketidak bergunaan, menegaskan kembali bahwa mp3 usang itu adalah benda lapuk yang ketinggalan zaman, benda yang semakin tua renta dan ditinggal manusia yang pernah menjadi tuanya. aku telah lupa, bahwa mp3 usang itu adalah teman, teman yang telah berkontribusi dalam lembar-lembar cerita kehidupan, teman yang menjadi saksi setiap keadaan dan teman yang menyenangkan.

%d bloggers like this: