dadang kurniawan

LIFE / MOMENT

Surat untuk diriku sendiri

Aku mulai berdamai dengan keadaan setelah renungan panjang, betapa beratnya menghargai setiap keputusan. Aku mulai menyadari bahwa hidup tak akan pernah menjadi mudah hanya dengan menyalahkan.

hari ini, aku hanya seorang pegawai biasa disalah satu perusahaan konsultan di Jakarta, setiap pagi, aku memulai kehidupan pukul 7.30 dari hari senin sampai jumat. memacu sepeda motorku yang berjarak kurang lebih 4 kilo meter, bergumul dengan macet dan berteman dengan keterburu-buruan, tidak ada pemandangan lain selain rentetan panjang kendaraan dan kegaduhan dijalan, yang saling memaki lewat klakson yang membuat bising telinga. seperti semua orang sudah maklum dengan susana seperti ini dan memilih untuk balik memaki dengan klakson yang lebih panjang membuatku ikut memencet klakson dengan kesal.

***

aku memulai pekerjaan pukul 8.30, duduk menatap layar dan berkutat dengan kode-kode program, jika sudah suntuk, aku mengajak teman sebelahku, berbisik dari balik kubikel, ngelantur mengobrolkan headline dari beberapa berita yang membuat kembali memaki atau filem bioskop yang sedang tayang.  itu cukup membuatku berteman disini, beberapa dari mereka adalah orang yang usianya sama. mereka adalah orang-orang yang cukup menyenangkan yang menjadi hiburan dan tempat kabur dari mumetnya pekerjaan yang berulang.

***

Jika beruntung, di akhir pekan aku akan bertemu dengan teman-temanku yang lain, pergi untuk mengunjungi tempat dan berkenalan dengan orang-orang baru, kadang aku bertemu dengan orang yang mengenal temanku yang lain, aku mudah membuat obrolan dengan mereka, aku hanya meminta mereka sedikit bercerita tentang teman kita yang sama, kemudian mereka akan bercerita banyak hal.

***

Aku memilih jadi seperti ini.

***

hari ini, aku menulis surat untuk diriku sendiri, bahwa hari ini aku bahagia, bukan karena hidupku lebih baik dari sebelumnya, aku hanya lebih bisa menerima apapun yang terjadi dulu, kemarin dan hari ini. Apapun aku jadinya nanti, aku menerima dan mengapresiasi dengan penuh kesadaran setiap keputusan yang aku buat. wahai aku yang nantinya membaca tulisan ini kembali, aku tidak akan menyesali keputusan dari banyaknya pilihan-pilihan, karena aku percaya, aku pada saat inilah yang mengerti situasi dan kondisiku sendiri. aku saat inilah yang telah memutuskan untuk menjadi seperti ini setelah panjangnya pertimbangan dan rangkaian kejadian yang mungkin kamu sendiri sudah tidak ingat lagi saat membacanya nanti. cukup percaya saja, kamu pada hari ini telah semampu tenaga melakukan keputusan yang paling terbaik.

 

%d bloggers like this: