dadang kurniawan

LIFE

Kelas Inspirasi

Tahun ini adalah tahun terakhir mereka di SD 2 sembongin, bebeprapa bulan lagi, mereka akan memulai phase baru dalam hidup mereka, mungkin mereka berencana untuk melanjutkan ke sekolah menengah pertama, mungkin juga mereka belum memikirkan apa-apa setelah tahun ajaran disekolah itu berakhir, mungkin ada juga yang berpikir ‘gimana orang tua aja nanti gimana’. Sekarang adalah masa dimana passion adalah kata yang belum mereka kenal, cita-cita¬†adalah sebuah cerita yang sering mereka dengar dari guru-guru di kelas. Dokter, guru, pilot, katanya mereka harus jadi begitu, ‘iya aku mau jadi guru’, ‘iya aku mau jadi dokter’, pikiran mereka meng-iya-kan, tanpa mengetahui hal apa yang harus dilakukan selanjutnya, pikir mereka saat ini, semua orang akan menjadi begitu dengan sendirinya.

Sabtu itu, mungkin mereka merasa heran, melihat orang-orang dewasa yang datang kesekolah mereka, katanya, orang-orang dewasa itu datang dari kota, katanya orang-orang dewasa itu dari profesi yang berbeda, katanya, orang-orang dewasa itu mau memberi insfirasi buat mereka semua, insfirasi untuk meraih cita-cita. Mereka lihat, beberapa orang menggunakan pakaian yang sangat berbeda dari orang-orang dewasa lainya, pake jas dan pake dasi, ada orang yang berseragam juga, seragamnya mirip satpam. Bebrapa orang membawa barang-barang yang tak lazim, mungkin, seumur-umur baru mereka liat barang itu, bentuknya mirip kotak dan memiliki baling-baling disetiap sudut sisinya, mereka menduga-duga, pasti benda itu bisa terbang, benar saja, benda itu bisa terbang, suaranya berdengung dan mengebas-ngebas, menarik perhatian banyak orang, anginya bikin semriwing, “namanya drone”, kata salah seorang dewasa dengan baju kotak-kotak ungu itu, beberapa anak-anak dari mereka mengangguk-angguk sambil bilang “Oooo” panjang, merasa takjub dan sedikit bingung, mungkin benda itu mainan, soalnya ada orang yang terlihat sedang mengotak-atik benda kekiri kekanan.

Siang itu, beberapa orang dewasa masuk kelas mereka, salah seorang dewasa itu bilang, dia adalah seorang programmer, kerjaanya membuat website, dia bawa laptop, (mungkin) benda yang baru mereka liat juga, dia bilang, sepanjang hari dia bekerja menggunakan laptop itu dikantornya, dia membuat aplikasi web, aplikasi yang dia buat bisa memudahkan orang untuk melakukan belanja melalui internet, jadi orang tidak perlu pergi kepasar atau ketoko untuk membeli sesuatu, cukup membuka laptop atau komputer lalu mengunjungi sebuah website untuk berbelanja secara online, nanti barang yang dibeli akan dikirim kerumah pembelinya, semacam aplikasi yang ada ditelepon pintar untuk memesan ojek secara online juga adalah buah karya dari orang-orang yang seprofesinya, bahkan facebook, nama yang sering mereka dengar tapi entah facebook itu apa adalah buatan orang-orang seperti dia juga.

Terlalu banyak istilah dan kalimat yang mereka tidak mengerti, berbicara bahasa indonesia saja mungkin masih mikir, seperti ‘nggeh’ itu bahasa indonesianya apa?, diam dan manggut-manggut sepertinya menjadi reaksi yang paling tepat untuk me-response setiap klimat yang orang dewasa itu katakan.

“orang dewasa itu pasti dulunya kuliah, mungkin dia kuliahnya tinggi banget, pasti dia anak orang kaya, kalo kitamah cuman anak kampung, setelah lulus dari sini saja entah mau melanjutkan sekolah atau engga, soalnya katanya biaya SMP itu mahal, emak dan bapak bilang harus prihatin, hidup dikampung jadi orang yang serba kurang, nggak perlu muluk-muluk ingin ini itu, mending hidup sederhana, bantu orang tua cari uang, merantau ke kota cari-cari kerja atau jadi kuli bantu-bantu disawah” pikiran anak-anak itu mengawang melamuni keadaan, sambil sesekali tertawa, menertawakan betapa ketidak mampuan membebani pikiran mereka dan tertawa karena orang desawa itu melucu seperti mengolok-olok.

%d bloggers like this: