dadang kurniawan

Antivist

Stone Garden

sekitar 2014-an, waktu gw masih kuliah di Bandung nyambi kerja di software house sebagai technical writer berkedok programmer, gw tertarik dengan huru-hara didunia per-IT-an yang ramai  dan banyak di perbincangkan, mungkin karena kurang bergaul jadi gw gak tau apa-apa soal startup, komunitas, kumpulan, sekte atau organisasi apapun yang berkaitan dengan programming di Bandung.

beberapa bulan berikutnya, gw dapet offer dari salah satu startup dari india di Jakarta. bermodalkan bahasa inggris dengan aksen forest gump pada saat interview, gw diterima sebagai semi senior programmer dan dengan berbagai pertimbangan akhirnya gw pindah kerja di Jakarta.

secara load kerjaan, startup tidaklah lebih baik dari kerjaan sebelumnya di software house yang biarpun riweuh tapi scope nya masih technical, sedangkan di startup banyak pressure dari kiri kanan atas bawah depan belakang.

sambil kerja di Jakarta, gw-pun masih active ngampus tiap weekend, biasanya jumat malam atau sabtu paginya gw pulang naik travel balik ke Bandung. karena udah capek duluan ngurusin kerjaan selama weekdays, ditambah perjalanan yang macet banget makinlah gw ngerasa exhausted sehingga gw bercita-cita ingin jadi Birdman dan bisa terbang.

salah satu momen yang paling membahagiakan ditengah madesunya situasi perjalanan, gw selalu bahagia liat gundukan satu-satunya batu segede bukit didaerah Padalarang yang disebut Stone Garden, “kapan-kapan kalo sempet gw mau mampir kesana!” gw membatin setengah berdoa dengan khusuk dan tumanina agar tersentuh qalbu dan didengar oleh ALLAH SWT.

kemarin, setelah hampir tiga tahun dari perbatinan gw diatas, temen gw nikahan didaerah Padalarang. suprisingly, tempatnya tepat di depan pintu masuk Stone Garden! emejing pisan! dan alhamdulillahnya gw lagi bawa kamera. inilah yang disebut “Bengkung ngariung bongkok ngaronyok”-tea wkwkwk apaan coba? teu nyaho aeng.

%d bloggers like this: