dadang kurniawan

CEPRPEN

Somad

Untuk seseorang yang kisahnya terlupakan

dibulan ramadhan ditahun itu, tidak sengaja aku satu madrasah diniyah yang sama denganya, yang dilaksanakan selama dua minggu kedepan. cukup membuatku heran karena harusnya dia ditingkat sanawi dan membuatku resah karena aku takut dia berbuat onar dikelas yang tidak berdaya ini. tapi tidak, sepanjang pembelajaran dia hanya diam, ternyata dia bodoh untuk pelajaran membaca Iqro. diminggu pertama, dia memintaku untuk mengajarinya membaca, aku hanya diam dan mengangguk, batinku mengatakan”tidak” tapi terlalu takut untuk menyampaikanya. dihadapanku dia mengeja barisan huruf hijaiyah dengan pelan dan patah-patah, dengan suara terbata dan takut, aku mengoreksi setiap pelafalanya. aku sungguh menggoblok-goblokinya dalam batin, tapi masih takut jika dia sadar aku melakukan itu. setalah beberapa hari, aku sudah tidak lagi bisu, suasana tidak lagi beku. aku melihat ekspresi somad yang senang saat dia memukul-mukul kepalanya sendiri karena dia lupa salah satu huruf dan tertawa lebar tiap aku betulkan dan aku mendapatkan somad dengan citra yang berbeda.

diakhir masa madrasah itu, aku dan somad dinobatkan menjadi salah dua santri yang paling rajin. aku melihat somad sangat genbira sekali, sekali lagi aku baru melihat bentuk somad yang seperti itu. “makasih banyak ya, tahun depan aku mau kita satu kelas lagi”. ucap somad lirih. aku balas dengan menyalaminya. setelah itu, aku tidak lagi bertemu dengan somad.

waktu kecil dulu, aku pernah berteman dengan seorang anak bernama somad. usianya empat tahun lebih tua dariku, sebelum dia melanjutkan sekolah menengah pertama, dia adalah kakak kelas disekolah dasar yang sama denganku. pada masa itu, somad memiliki perawakan kerempeng, jarak kedua matanya terlihat sempit,  kulitnya hitam dan wajahnya bulat tirus. aku mengenalnya sebagai anak nakal yang suka berkata kasar, tingkah lakunya seperti preman, dia sangat suka berbuat iseng dan menjahili teman-temanya dan melakukan perisakan kepada anak yang lebih kecil darinya. tak jarang, anak yang dirundungnya menangis dan banyak orang tua yang mengadukan kenakalan somad kepada kepala sekolah.

beberapa bulan setelah itu, warga kampung geger dengan kejadian anak kecil hanyut disungai, membuat khawatir para orang tua karena salah satu kegemaran anak-anak dikampung itu adalah bermain dan mandi disungai. “dikorod si kuntet siganamah (kayanya diambil sama siluman buaya putih buntung)” duga para warga yang aku dengar dengan berbisik-bisik tiap ada kerumunan membicarakan si anak hanyut. orang-orang disini masih percaya dengan hal semcam ini, akupun demikian. 

setelah beberapa hari, si anak hanyut telah ditemukan. diketahui anak hanyut itu adalah somad anak satu-satu mak ocih. semua warga kampung kembali geger, mereka kembali menduga bahwa somad telah menjadi tumbal siluman ratu buaya untuk dijadikan budak seperti tahun-tahun sebelumnya. ada juga yang menyumpahi somad sebagai azab dari kenakalanya. beberapa orang mengucap syukur karnea bukan anggota kelularganya yang bernasib sial, beberapa orang prihatin dengan si somad anak mak ocih. tentu saja dugaan itu hanyalah keterbatasan orang-orang kampung karena kurang mampunya berpikir secara rasional.

mak ocih meraung-raung menangis dirumahnya, beberapa ibu-ibu menenangkan mak ocih, beberapa kali mak ocih pingsan dan sadar dengan kembali merintih getir tanpa bersuara yang kemudian menjerit-jerit memanggil nama somad. “bageur, ganteng, anak ema. emak nyaah ka somad, geuwat balik ujang (anak baik,anak ganteng, anak emak, emak sayang sama somad, cepat pulang nak)”. lirih suara mak ocih penuh sengsara.

mak ocih adalah janda miskin yang ditinggalkan suaminya sejak somad masih dibedong, suaminya menikah lagi dengan perempuan kampung sebelah. mak ocih banting tulang melakukan pekerjaan apa saja untuk merawat somad. setiap sore, para tetangga sudah dibiasakan oleh mak ocih yang berteriak marah kepada somad karena ada saja kenakalan diperbuat somad. tak jarang, mak ocih memukuli somad dengan sapu lidi dan somad menjerit-jerit minta ampun. tapi tiada ampun dari mak ocih karena tiada tobat oleh somad. senakal-nakalnya somad, mak ocih adalah orang yang paling dia takuti. dibulan ramadhan yang lalu, mak ocih bersungut-sungut kepada somad untuk turut prihatin, prihatin kepada mak ocih yang sudah tua renta, yang sudah tidak bisa lagi melakukan banyak pekerjaan karena penyakit encoknya. mak ocih meminta somad untuk mulai mengerti karena usianya yang semakin besar untuk situasi dan kondisi mereka berdua. itulah sebab, bulan puasa lalu somad pergi ke madrasah untuk belajar mengaji kepada wak haji, karena mak ocih berpesan kepada somad untuk belajar mengaji sehingga ketika mak ocih wafat somad bisa mendoakanya dengan membaca surat yaasin dikuburanya kelak. mungkin itu pula yang membuat somad mengubah perlahan perangainya.

bebrapa hari sebelum hanyut, somad berpamitan kepada mak ocih untuk berkunjung kerumah bapaknya dikampung sebelah dengan tujuan meminta uang untuk bayar iuran sekolahnya, somad sengaja memilih jalan menyebrang sungai agar cepat sampai. naas nasib somad, saat berenang untuk menyebrang somad diterjang air bah dari girang.

***

ditahun berikutnya, aku kembali mengikuti kelas madrasah diniyah dikelas dan bangku yang sama. aku melirik meja depan barisan sebelah yang diduduki oleh bocah gendut bermuka polos yang khusyuk mencoret-coret journal ramadhan dengan gambar anime. dibangku itulah dulu somad duduk dan meliriku dengan wajah prihatin.  

Leave A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: