dadang kurniawan

MOMENT

Roti isi babi

aku mulai membiasakan diri datang ke kantor lebih pagi belakangan ini, sebelum jam operasional dimulai, menyapa receptionist dan orang-orang yang biasanya datang lebih awal.
Sebelum memulai rutinitas, aku menyempatkan diri menikmati suasana ruang kerja yang lengang, melihat betapa sepinya ruangan sebelum hiruk-pikuk dimulai, duduk santai, buka sosial media, baca trending topik berita, memperhatikan orang-orang yang mulai berdatangan satu-persatu dan saling menyapa, ini adalah bagian yang paling menyenangkan, biasanya, mereka langsung ke pantry, menyeduh kopi panas dari vending machine atau kopi tubruk sambil berbincang-bincang dan tertawa mengawali pagi, aroma kopinya sangat menyengat, menciptakan suasana khas untuk dinikmati, aku sengaja mengendus-enduskan hidung menciumi baunya, ikut merasakan atmosphere suasana pagi yang membuat semangat.

Nci yani, wanita paruh baya dari divisi sebelah, beberapa hari ini sering aku lihat mondar-mandir bawa kantong plastik, kadang-kadang aku mengintip dari balik meja yang berbentuk kubikel, penasaran dengan yang dilakukanya. ㅤㅤ
“Mejanya hidayat mana ya?”, tanya nci yani celingukan, mencari siapa saja yang bersedia menjawab.ㅤ
“hidayat sebalah sini!”, sahutku sambil menunjuk meja kosong, kemudian nci yani repot membereskan kantong kereseknya dan cepat-cepat jalan.
“ini ya?” sambil menunjuk meja hidayat.
“iya!”, aku jawab tegas.
nci yani meletakan roti yang dibungkus plastik mika diatas meja tersebut, dengan muka datar, aku memperhatikanya. ㅤㅤ
“Hmmm, kayanya kalo kamu ngga bisa deh” kata nci yani, menebak rasa penasaranku.
“isinya babi ya?” tanyaku memastikan.
“iya, besok aja kalo mau, aku bawa ayam” jawabnya tidak mau mengecewakan, aku senyum sambil ngangguk.
ㅤㅤ
budaya dikantor ini emang beragam, biarpun corporate, kebanyakan dari mereka tidak cuek dengan hal-hal kecil, sesederhana memperhatikan kebiasaan yang dilakukan orang-orang, termasuk memperhatikan suku, ras, anatomi, kebiasaan beribadah atau kebiasaan lain yang bersifat personal. mereka menghargai dengan semua perbedaan.

%d bloggers like this: