dadang kurniawan

MOMENT / TRAVEL

Kisah dalam perjalanan angkot

Sebuah momen di suatu siang dalam perjalanan angkot dari batu raden menuju purbalingga.

aku yang memang tidak pernah bisa berhenti mengobrolkan apa saja, terus bercuap-cuap. membual kesana kemari dan mengomentari apa saja yang terlihat disepanjang jalan maupun yang tiba-tiba terlintas dipikiran.

di moment itu,  anas menjadi teman bicara yang santai. mendengar dan sesekali menimpali dengan cerita lain yang berkorelasi dengan hal yang aku ceritakan, dia selalu sabar mendengar ceritaku sampai selesai sambil menikmati angin semriwing yang menyapu wajah dan memberikan rasa syahdu nan menyegarkan jiwa yang merasuk dari jendela angkot yang melaju kencang. Sambil masih menjilat-jilati bumbu balado mie lidi kering yang terbuat dari MSG itu, anas hanya mengangguk-ngangguk sambil sesekali tertawa kecil. sesekali aku fokus dengan kelakukan anas yang mengemuti mie lidi kering itu setelah bumbu balado itu tandas, menjadikan wujud si mie lidi kering nampak kembali pada hakikatnya yang terbuat dari tepung dan dimasak dengan cara di goreng dan tampak tidak akan membuat orang selera untuk memakanya karena terlihat hambar apalagi setelah di lumuri air liur.

“enak banget cuy, seriusan!” celetuk anas sambil melebarkan bibirnya tanda senyum. menebak rasa penasaranku yang berekspresi aneh tiap kali dia melakukanya. anas semakin tertawa puas, aku semakin heran, dia kembali melanjutkan tertawanya yang bebas semerdeka ia menjadi warga negara yang berdaulat dan tak peduli dengan bulian tentang “orang goblok kebanyakan micin”. emang bego, aku yang dari tadi banyak bicarapun penasaran juga. mencoba mengambil batangan mie lidi kering yang dilumuri serbuk bumbu balado itu dari tangan anas lalu mengemut dan menjilati bumbunya, persis seperti yang anas lakukan. malahan aku menghisap-hisap remeh bumbu balado yang menempel diujung jari dan jempol, tidak mau membiarkan bumbu itu membuat lengket. Rasanya seperti menambul masako, bumbu indomi atau penyedap masakan lainya. enak, jadi pengen coba lagi hahahha.

***

Supir angkot nampak fokus, duduk dikursi paling depan, tidak ada orang atau penumpang yang duduk disebelah kursinya, nampaknya hari itu adalah hari yang sepi untuk angkotnya. dia terus melirik kiri-kanan dengan tajam, “purbalingga” teriaknya kepada siapa saja yang berdiri dan duduk di pinggir jalan, atau yang memang tidak sengaja berada di pinggir jalan dan sial karena diteriaki supir angkot yang karenanya dia harus mengeluarkan tenaga menggeleng atau kembali meneriaki si supir angkot menginformasikan bahwa dia bukan penumpangnya. kadang ada juga yang hanya diam setelah diteriaki berkali-kali, membuat kesal dan membuat si supir angkot memencet klaksonya berkali-kali. Si supir angkot hanya ingin memastikan dan berharap orang-orang yang diteriakinya adalah penumpangnya. bukan hanya karena semakin banyak yang naik angkotnya akan semakin banyak upah yang didapat dari jasanya, tapi  dia juga berharap manfaat dari pekerjaanya, membantu orang untuk tidak bersusah payah sampai ditujuan.

sesekali, aku liat si supir angkot melirik penumpang yang duduk dipaling belakangnya, aku dan anas, yang dari tadi berisik, melirik lewat sepion tengah, matanya beradu dengan mataku lewat refleksi kacanya. mata itu seolah ingin bercerita tantang segudang kisah dan keluhan-keluhan hidupnya. memintaku untuk diam, memohon untuk mengerti, mengerti untuk tidak membuat iri hidup si supir angkot yang tak berteman, meminta untuk tidak cengengsan ditengah lelahnya pekerjaan yang telah ia lakukan sepanjang hari.

***

satu penumpang lain anak sekitar umur 12 tahun yang duduk tepat di belakang kursi supir, duduk membelakangi kita berdua, diam dan sepi, kadang-kadang dia penasaran juga, mendengar obrolan kita berdua, namun malu. nampak dari gerak reflek yang ingin membalik lalu melihat betapa kocaknya wajah kita berdua namun ia tahan. setelah beberapa lama, dia mencolek punggung si supir angkot, memberi kode bahwa angkot si supir telah mengantarnya sampai ditujuan. dia merogoh saku celananya untuk mengambil uang receh sebagai upah si supir angkot yang telah mengantarnya. sebelum beranjak dari duduk dan turun, anak itu menengok ke arah ku juga, melirik kepada anas, mengakhiri rasa penasaranya yang setengah mati akan terbayang di kepalanya tanpa bisa dia bayangkan rupa dari si pelakon dalam cerita untuk dikisahkan kepada orang lain untuk pengalamanya naik angkotnya hari itu. 

Aku melihat sendu diwajahnya. tersirat sebuah cerita tentang kegelisahan hatinya. diamnya, seperti ingin berhenti dari hidup yang baru dijalaninya. perjalananya saat itu seperti waktu yang hanya dia punya untuk menentukan seperti apa kelanjutan kisahnya setelah itu dan nampaknya hanya kepasrahan yang dia punya.

angkot kembali melaju setelah anak itu turun, aku melihatnya berdiri menunduk, setelah menengok kiri-kanan, dia berlari menyebrang jalan dan lenyap ditelan mulut gang sempit.

***

anas bercerita kepadaku, bahwa perjalananya saat itu adalah sebuah pelarian dari rutinitas hidupnya yang terus-menurs berulang, pelarian dari rencana-rencananya yang tak kunjung mendapat titik terang dan kegelisahan hatinya dari setiap keputusan-keputusan.

***

aku sendiri, perjalanan saat itu adalah hal yang hanya bisa aku lakukan, dari penatnya urusan-urusan pekerjaan. dan usaha mencari teman. meyakinkan diri agar tidak merasa sendirian.    

%d bloggers like this: