dadang kurniawan

CEPRPEN / LIFE

Keranjang Sampah

“Monyet!, tai lah asu!“, kerutuk Andra kepada signal seluler hapenya yang luplep, kadang mendapat signal LTE dan kadang no service.

suara itu adalah suara yang sudah lama sekali tidak aku dengar dari seorang Andra Wicaksono, teman sekolahku dulu saat sekolah menengah kejuruan, suaranya keras dan memekakan kuping, membuat siapa saja yang mendengar ingin mengumpat memakinya balik. tapi aku merasa kembali terbiasa dan serasa menemukan kembali hidup lama yang hilang. beberapa tahun lalu Andra memilih pergi ke malaysia untuk melakukan pekerjaan disana, sekaligus kabur dari cibiran orang-orang yang mengatainya pengangguran. sebagai lulusan salah satu kampus pariwisata di Jawa Barat, Andra tidak berpikir dua kali untuk mengambil kesempatan ketika Andra menerima tawaran bekerja disalah satu Hotel di negri jiran melalui surelnya. setelah menanda tangani kontrak selama 2 tahun, resmilah Andra menjadi warga imigran dan menyandang status karyawan Hotel. sekembalinya darisana dan aku bertemu denganya, aku menemukan seorang Andra yang telah berbeda. menjadi lebih hitam dan berbadan kerempeng dengan rambut panjang yang kusam.

Andra Wicaksono dan saudaranya Andri Wicaksono, mereka adalah dua bersaudara kembar dari Indramayu. percayalah, Andri adalah langit dengan segala kesempurnaanya yang dipuja sedangkan Andra adalah bumi dengan segala kehinaanya yang penuh cela. tidak ada kemiripan dari keduanya selain dialek medok saat mereka berbicara dalam bahasa sunda. Andra sekolah ditempat yang sama dengan ku, disekolah menengah kejuruan biasa yang seringnya di cap sebagai sekolah buangan esek-esek oleh anak-anak sekolah negri lain, karena kebanyakan siswanya memang anak-anak yang gagal dalam seleksi masuk sekolah negri dengan jurusan rekayasa perangkat lunak. sedangkan Andri bersekolah di SMA Negri favorit semua anak-anak pintar dan rajin belajar di Subang. mereka sengaja disekolahkan di Subang oleh bapak mereka  yang bekerja sebagai mantri supaya lebih fokus belajar dan terhindar dari runyamnya urusan keluarga mereka.

Andra, dia satu tingkat diatasku, dia adalah anak yang rajin dan senang berorganisasi disekolah, dia menjadi ketua PRAMUKA dan menjadi ketua salah satu sekbid organisasi intra sekolah. mungkin, sebenenrya Andra hanya ingin berteman dengan banyak orang karena Andra adalah anak yang berbeda, datang dari tempat berbeda, memiliki bahasa dan kebiasaan yang berbeda.

sebelum aku masuk ke sekolah itu, Andra berteman dengan temanku yang lebih dulu masuk ke sekolah itu juga, namanya Gagah dan Bakti, teman sekolahku semasa SMP dan kelak aku masuk kesekolah itu karena ajakan Bakti dan Gagah. dibalik keaktifanya berorganisasi disekolah, Andra adalah anak yang kesepian, sisa-sisa harinya menjelang malam menuju tidur dihabiskan hanya berdua dengan saudara kembarnya disatu ruangan lembap dan pengap yang disinari cahaya lampu kuning 5 watt, yang dari awal mereka menempati kamar itu hingga mereka lulus tetap menyala dengan setia. sebagaimanapun kembarnya mereka, sifat bumi dan langit melekat pada kedua bersaudara kembar itu sehingga tidak ada obrolan untuk saling bertukar cerita dari hari-hari yang mereka habiskan untuk urusan masing-masing disekolah dan hanya berucap untuk hal-hal seperlunya.

Andra pernah bercerita, Andra sering memperhatikan gadis yang disukainya setiap jam istirahat. gadis itu adalah Elok, gadis manis yang membuat angan Andra melayang ketika melihat senyum manisnya. Andra tidak pernah berani menyapa Elok, satu-satunya kesempatan Andra mengobrol dengan Elok adalah karena Elok adalah ketua PRAMUKA dari regu putri, itupun dengan lidah kelu dan terbata-bata Andra hanya berucap seperlunya, dan Elok menanggapinya dengan biasa, menjawab seperlunya juga, lebih memperlihatkan sikap tidak tertarik. sampai akhir masa sekolah Andra, Elok adalah seseorang yang Andra lewatkan, membiarkan semuanya menjadi harapan. beberapa tahun setelah kelulusan Andra, Andra mendapat kabar Elok menikah dengan lelaki mapan pilihanya. Andra hanya menerima undanganya lewat pesan singkat dari temanya. kecewa, lalu andra hanya membiarkanya menjadi cerita dan menutup rapat kisahnya.        

Saat itu, adalah tahun ketiga Andra bersekolah. dalam detik-detik menjelang kelulusanya disekolah itu, Andra tidak lagi menjadi anak yang rajin dan aktif berorganisasi, Andra menjadi manusia yang lebih suka menyinyiri setiap tingkah laku orang-orang disekolah itu, terlebih lagi teman-teman yang tidak dia sukai dan beberapa guru yang pernah punya masalah sentimentil denganya. Guru yang tak tahan kritik boleh masuk keranjang sampah. Guru bukan dewa dan selalu benar. Dan murid bukan kerbau. Andra menggerutu dengan tegas dan lantang mengutip kalimat Gie dibukunya Catatan seorang demonstran. Andra menjadi semakin kritis dan mengkritisi apa saja yang menurutnya tidak benar.

Sikap kritik dan nyinyir yang malah seringnya dianggap sebuah ketololan dan sok-sokan intelek itu Andra dapati setelah setahun menjadi kontributor di salah satu koran lokal dan mengikuti kelas jurnalistik seminggu sekali, aku juga ikut menjadi salah satu kontributor dengan perwakilan anak-anak dari sekolah lain. kita banyak berdiskusi tentang apa saja, Soe Hok Gie adalah sosok yang menjadi role model saat itu, lewat bukunya Catatan seorang demonstran, banyak mengilhami sifat dan karakter Andra menjadi seorang pengkiritis seperti Gie. Ditahun kedua masa-masa jurnalistik itu, Andra sudah tidak aktif lagi dikarenakan tugas sekolah yang semakin menumpuk dan Uji kompetensi yang membuat ngilu jika dibayangkan oleh Andra mengingat dia harus berurusan dengan kode-kode program bedebah yang semakin hari semakin Andra benci karena membuatnya pusing.

sebelum masa-masa kelulusanya, aku sering menghabiskan waktu dengannya, berbual banyak hal, aku adalah orang yang akan menjadi keranjang sampah nya jika dirasa tidak ada orang lain yang akan mendengarnya, sejujurnya, akupun tidak peduli, aku membiarkan Andra mengeluarkan semua keluh-kesahnya, mengumpati kehidupannya lewat omongan yang penuh limbah sampah, tanpa takut keranjang sampah itu bocor dan menebar ruap busuknya kebanyak orang, Andra terus menjejalkan banyak kotoran. aku tidak perlu memikirkan setiap kalimat yang keluar dari mulutnya. kadang, akupun demikian. aku menyampahinya dengan kesialan-kesialan hidup yang sama. kadang aku berpikir, apa yang akan Andra lakukan setelah lulus nanti, dan apa yang akan aku lakukan pula setelah Andra tidak menjadi teman sekolahku lagi. rasanya, aku seperti terjebak dalam situasi hidup yang enggan aku jalankan dan aku rasa mati tidaklah lebih baik. tidak akan ada lagi keranjang sampah yang akan menampung semua omong kosong yang dihasilkan oleh cunguk-cunguk macam Aku dan Andra untuk mengotori satu sama lain.

Setelah lulus dari sekolah kejuruan, Andra melanjutkan kuliahnya mengambil jurusan perhotelan. sedangkan Andri sibuk dengan urusan SMPTN-nya, aku pernah sekali mengantarnya pergi ke Bandung mengunjungi kampus impianya.

Setelah itu, aku menjalani kehidupan disekolah seperti biasa, bangun pagi dan berangkat sekolah di jam yang sama seperti hari sebelumya, pulang dan melanjutkan kegiatanku untuk mencari narasumber dari tugas menulisku. aku masih aktif menulis sampai semester akhir masa sekolahku, aku sudah tidak lagi menulis berita karena mulai disibukan dengan tugas-tugas sekolah menjelang ujian. menghabiskan malam dibalik sekat warnet, menyalin beberapa file yang sebelumnya aku unduh dan menulis beberapa article untuk blogku. itulah keranjang sampah baruku, tempat aku membuang semua kotoran hidupku disana. tanpa ada orang yang tau.

%d bloggers like this: