dadang kurniawan

LIFE / MOMENT

Kenangan menari

Aku tidak akan pernah lupa, bagaimana kamu memperagakan tarian aki lengser dengan begitu lihainya, tubuhmu yang gemulai, kamu goyang-goyangkan penuh ekspresi, membuatku tidak bisa berhenti tertawa. Harusnya kamu lihat bagaimana kamu memperagakan tarian itu. kamu pasti akan menertawakanya juga, sama sepertiku yang tidak bisa berhenti tertawa saat kamu melakukan itu.

Aku mulai memberanikan diri, memulai dengan langkah pelan dan memaksakan badanku yang kaku untuk bergerak, malu-malu aku masih melihatmu untuk mengikuti gerakanmu, akhirnya aku bisa juga. Lalu kita menari bersama, tertawa, kita melakukan tos, saat itu aku merasa kamu adalah temanku, teman seusiaku, aku tidak percaya aku mau melakukannya, melakukan tarian yang tidak ingin lagi aku lakukan, tarian yang membuatku malu bila aku mengingatnya. Haha, kamu luar biasa sekali, membuatku melakukan itu.

Aku mulai menyukaimu. Aku tambah kagum saat mendengarmu ngawih, suaramu begitu nyaman ditelingaku, tinggi melengking. Membuatku senyum-senyum sendiri mendengarnya, ah, harusnya aku melihat wajahku sendiri saat kamu alunkan suaramu yang halus itu.

Tertawamu yang begitu sederhana, menggambarkan bahwa kamu adalah seorang wanita yang juga sederhana, apalagi saat kamu kembangkan senyum manismu, melebarkan bibir tipismu, ditambah lesung pipit yang sangat manis, kamu begitu cantik.

Kamu selalu ramah kepada semua orang, menebar senyum kepada semua orang, menyapa semua orang, dan baik kepada semua orang. Membuat sikapmu menjadi begitu cantik. Sempurnalah, bahwa kamu adalah wanita yang begitu cantik sempurna.

Suatu hari, aku pernah bertanya padamu, “apakah aku boleh memanggilmu ibu??”, kamu hanya tersenyum dengan lesung pipit manismu. lalu kamu mengangguk, menandakan tidak keberatan dengan permintaanku, aku membalas senyumanmu. aku tersenyum.

Hari ini, banyak yang menangis, merasa kehilanganmu, kehilangan senyum dan lesung pipit manismu. Rupanya tuhan juga sangat menyayangimu, DIA menjemputmu lebih cepat, tak mau dunia mempermainkanmu, tidak mau membiarkanmu menyerah dengan penyakit yang membuatmu sedih, tidak mau melihatmu menangis karena kamu peduli dengan banyak orang pada kondisimu itu.

Aku menangis, aku masih ingin melihatmu menari, aku masih ingin mendengar suaramu yang merdu, aku masih ingin bernostalgia, menari bersamamu lagi.

Aku senang, kita pernah menari bersama, melakukan tos untuk mengekspresikan kegembiraan kita, seolah kamu dan aku adalah teman seusia. Sekarang atau nanti, aku akan bersamamu, bertemu, kita akan menari bersama lagi. nanti, aku saja yang akan menari, karena aku ingin melihat tertawamu.

Apa kamu tahu?, aku mengetik ini dengan menahan perasaanku yang semakin sesak ingin menangis. Rasanya berat sekali.

 

* ini adalah tulisan untuk mengenang ibu Ai komala, guru bahasa (sunda, jepang dan indonesia) waktu SMK, selain itu beliau juga mengajar karawitan (kesenian sunda),  ditulis beberapa jam setelah mendengar beliau meninggal, satu tahun setelah aku lulus dari SMK Pasundan (2013), aku cukup dekat denganya. beliau adalah salah satu orang yang percaya bahwa aku bisa melakukan banyak hal yang baik.

%d bloggers like this: