dadang kurniawan

KACANG / MOMENT

Ibu pemilik warung dan burung merpati

cerita ini ini diambil saat gw berkunjung ke semarang, disekitaran wilayah kota lama yang saat itu lagi banyak renovasi.

 

Waktu gw lagi duduk di warung kopi sambil cuci mata di pelataran gereja blenduk, gw liat ibu pemilik warung yang berkukur-kukur memanggil gerombolan burung merpati yang dari gw mampir diwarung ini, sibuk hilir mudik kesana-kamari terbang bebas diatas genteng. mungkin itu adalah sebuah komunikasi yang biasa dilakukan oleh si Ibu , yang dimengerti oleh para gerombolan merpati bahwa: si Ibu hendak memberi makan. saat itu juga gw merasa amazed dengan si Ibu. karena gw pikir, itu semacam si Ibu telah menggunakan heptapod language guna dapat berkomunikasi dengan burung-burung itu.

sambil menabur jagung dari rantang yang dia tenteng, si Ibu pemilik warung monolog “duh kasian dari pagi belum makan, dipanggilin ga mau turun-turun sih, nih ayo makan yang banyak!, kasian” yang malah terdengar seperti orang tua yang bersungut-sungut karena anaknya bandel gak mau diurus.

setelah melihat burung-burung merpatinya mematuk-matuk jagung yang dia tabur berserakan kesana-kemari, si Ibu sekilas menyunggingkan senyum yang kemudian kembali ke aktifitas goreng-menggorengnya yang juga sekilas gw liat tiba-tiba berlagak sedikit panik, mungkin si Ibu baru kembali sadar perihal adonanya yang terlanjur diceburin buat berendam lucu dan berenang-renang dengan riang didalam ombak minyak goreng panas diatas wajan dengan api kompor gas yang sengaja dia putar ke tengah supaya irit.

***

beberapa saat kemudian, anggap saja ada anak alay yang berhasrat hendak menggambil gambar candid ditengah-tengah burung-burung yang lagi asik makan, dengan cara mengagetkan si burung-burung itu yang nantinya akan diambil fotonya oleh temanya yang sudah bersiap dengan segala macam dinamika settingan cameranya yang maha super ribet karena gak mau dianggap cupu kalo pake settingan superior auto yang di ekspektasikan hasil gambarnya akan kaya foto orang-orang kalo habis jalan-jalan dari eropa.

sebelum itu terjadi, si Ibu telah mengetahui gelagat anak-anak itu sehingga si Ibu mencegah mereka sambil lari gapah-gopoh dan berteriak sambil memegangi susruk yang dia tarik dari penggorengan seraya hendak memukulkan benda itu sehingga membuat minyak dari si susruk muncrat mengenai betis kaki gw dan si Ibu tidak peduli dengan gw yang merintih kesakitan karena lebih fokus ke anak-anak alay itu.

“HEH! mau ngapain?, jangan foto-foto ama burungnya, kasian, mereka lagi makan, mereka belum makan dari pagi. nanti saja. nanti saja fotonya kalo sudah pada makan burungnya!” desis si Ibu sambil mengacung-ngacungkan susruk dengan tujuan nge-bluff si anak-anak itu. dengan perasaan awkward, anak-anak itu pun mengurungkan niatnya yang hendak foto dengan burung-burung tadi dan memilih untuk bertingkah pura-pura tidak mendengar si Ibu.

tadinya, gw pun berhasrat hendak memotret burung-burung itu. tapi gw urungkan mengingat ancaman yang telah dilakukan oleh si Ibu, sehingga gw lebih memilih memotret bangunan gereja itu sendiri sambil mengusap-usap kulit betis gw yang melepuh akibat terkena tetesan minyak panas yang maha dahsyat.   

%d bloggers like this: