dadang kurniawan

CEPRPEN / MOMENT

Aster dan Oddy

minggu lalu, aku pulang kesebuah tempat yang seharusnya aku panggil rumah. sudah beberapa bulan ini aku tidak berkunjung ketempat ini. aku sudah bekerja, dan mulai disibukan dengan banyak kegiatan dan belajar ini itu untuk membiasakan diri dengan lingkungan baru. hanya sedikit waktu yang kuluangkan untuk mengunjungi dan berkumpul dengan orang-orang dirumah ini yang hanya tinggal empat orang. itupun waktu makan malam. suasana ini begitu asing lagi bagiku, kami hanya duduk makan tanpa bicara. pedahal seharusnya menjadi suasana yang begitu hangat, menyenangkan dan momen untuk berbagi cerita.

aku lihat, tidak ada yang berubah dari orang-orang ini, hanya tinggal sedikit saja yang tersisa. hanya wajah dua orang  tua yang semakin renta. mereka terlihat begitu lelah dan lusuh. lalu aku lihat dek aster, gadis manis yang hampir dua tahun ikut menghuni rumah ini, setelah kedua orang tua mereka bercerai. dek aster dan oddy kakaknya dititipkan ke nenek mereka oleh ibunya, ini adalah pengalaman tidak menyenangkan pertama dalam hidup mereka diusia yang seharusnya hanya memikirkan banyak jajan dan merengek minta dibelikan mainan yang sama dengan teman-teman mereka kepada ibu atau ayahnya.

dek aster selalu riang setiap aku pulang, dia selalu memanggil-manggil namaku, memaksakan diri untuk terlihat gembira, untuk membohongi dirinya sendiri karena kesepian. Oddy, kakanya. beberapa bulan lalu dibawa pergi oleh ayahnya ke Jakarta karena sakit. ayahnya hanya bilang hanya beberapa hari oddy dijkarta nanti sudah pulang lagi kepada dek aster yang menangis karena tidak mau ditinggal oddy, satu-satunya teman dalam hidup disituasi yang tidak menyenangkan nya saat itu, satu-satunya orang yang dia kenal ditempat pelik yang tidak bersahabat denganya. tidak ada orang yang mereka kenal, tidak ada bahasa yang mereka mengerti, tidak ada teman dan tidak ada apapun untuk membuat mereka nyaman selain kakak satu-satunya yang selalu menenangkan dengan obrolan cadelnya dan tangan mungilnya yang ringkih saat mendekap satu-satunya adik perempuan kesayangan dan teman hidup yang dia miliki. dek aster merengek ikut, dengan berurai air mata dan suara yang tersekat dikerongkongan, dia melenguh, memohon agar ikut pula dibawa oleh ayahnya yang jarang-jarang pula dia berkunjung menengok kedua anaknya. ayahnya hanya diam, memandangi dek aster dengan segala kepasrahan, entah hidup macam apa yang ayahnya jalani setelah mereka resmi tidak tinggal disatu rumah yang sama lagi. tangis dek aster pecah melihat oddy yang terkulai lemah dibopong oleh ayah mereka pergi, tangisnya menjerit, sekuat tenaga dia mengejar kuda besi yang melaju kencang yang membawa kakak dan ayahnya pergi jauh, tangis dek aster semakin menjadi karena ketidak berdayaanya, dia menyerah, menggelosar, mencakar-cakar tanah, mulutnya penuh debu yang basah bercampur air liur. kakak dan ayahnya menghilang ditelan pengkolan jalan yang memutuskan harapan terakhirnya untuk tidak ditinggal. hatinya teriris, perih dan tidak terima, mengapa hidup yang tidak menyenangkanya ini semakin pelik.

saat itu juga, bayangan oddy terlintas dikepalanya saat dek aster dan oddy baru tinggal ditempat ini dan ditinggal pergi oleh ibunya yang membawanya kemari dan hanya meninggalkan kalimat ibu ambil mainan dedek sama aa dulu ya dirumah lama, nanti ibu kesini lagi yang sampai beberapa hari masih belum kembali juga, beberapa hari itu mereka hanya diam, duduk berdua merenungi ketidak nyamanan hidupnya, menunggui dan bertanya-tanya, kapan ibu nya kembali membawa mainan yang ketinggalan dirumah mereka. kadang-kadang, dek aster menangis sepanjang malam memanggil-manggil ibunya, oddy hanya diam, memandangi adiknya yang menangis, kadang-kadang oddy juga ikut menangis lirih, tidak tega melihat adik tersayangnya sedih tapi tidak mau adiknya melihat dia menangis. perasaan dan air mata dek aster terkuras, membuat tubuhnya lelah, itulah yang membuat dek aster sejenak melupakan kesenduanya dan berhenti, membaringkan diri dan tanpa sadar terlelap, dibuai gelap dan sunyinya malam dengan diiringi suara sepoi angin malam dan suara hewan-hewan malam yang dirasa mengerikan.

suatu hari, mereka melihat anak-anak seusia mereka sedang asik lari-larian di pelataran rumah, bermain dan tertawa-tawa bahagia, terdengar menyenangkan dan membuat iri hati mereka berdua, sedikit menjadi hiburan untuk mereka melihat anak-anak lain dan berharap mereka berdua bisa ikut bermain dengan mereka juga. sudah menjadi naluri anak-anak, tiba-tiba dek aster berlari mendekat ke sekawanan anak-anak yang berkumpul riuh itu, kaki-kaki mungilnya mencicil langkah, bersemangat dan meriangkan wajah dengan senyum manisnya. oddy hanya diam melihat adiknya lari, membiarkannya melakukan hal yang ingin dia lakukan, memberi kesempatan kepada adiknya untuk berbahagia, malahan, dia juga ingin melakukanya, mendekat dan ikut pecicilan dengan anak-anak seusianya. belum sempat mendekat, anak-anak kampung itu melihat dek aster berlari mendekat dan menghentikan segala hal yang mereka lakukan dan heran melihat anak lain yang belum pernah mereka lihat. mengetahui reaksi yang berubah itu, dek aster menghentikan gerak langkah kakinya dan mematung, anak-anak itu memperlihatkan wajah yang tidak menyenangkan, memupuskan harapan dek aster untuk menjadi bahagia.

“heh maneh saha?”, salah satu dari kawanan anak kecil itu berteriak, terdengar tidak menyenangkan. dek aster hanya diam, tidak mengerti dengan apa yang si anak kecil teriakan. “heh maneh saha?”, anak itu kembali bertanya. melihat dek aster yang hanya diam dan memperlihatkan wajah murungnya yang tersuruk, si anak menjadi kesal, merasa tidak terima dengan pertanyaanya yang tidak dijawab oleh anak yang baru dia lihat. “saha maneh?”, kali ini si anak bertanya dengan nada menantang dan menghampiri dek aster. kebisuan adalah hal yang hanya bisa dilakuan dek aster, menunduk dan merasa takut, merasakan kemalangan akan terjadi kepada dirinya. anak itu mendorong dek aster hingga jatuh mengusruk. sontak dek aster menangis, mendapat jawaban dari pertanyaan tentang nasib nya. melihat itu, oddy yang dari tadi hanya menontoni adik nya yang diam mematung dan dihampiri salah satu anak dari kawanan itu yang kemudian mendorongnya hingga tersungkur, langsung berlari seolah mendapat kekuatan untuk melangkahkan kakinya yang boncel melesat, mengepalkan tangan dan meninju si anak kecil itu, tidak terima adiknya dibuat menangis, tidak terima adik kecilnya diperlakukan tidak menyenangkan dan tidak terima karena si anak kecil itu membuat dirinya sedih, melihat adik kecilnya menangis. si anak kecil yang ditinju oleh oddy lalu menangis, mengeluarkan suara yang lebih keras yang terdengar sumbang oleh oddy dan memekakan telinganya.

“apa luh!”, teriak oddy dengan muka galak menantang dan menunjuk si anak yang masih menjerit-jerit memanggil emak nya. anak-anak lain yang menyaksikan kaget dan memandang benci kepada dua orang yang baru mereka lihat. oddy tidak peduli, dia malah senang karena si anak merasakan sakit.

“udah dek, dedek main sama aa aja!” ucap oddy kepada dek aster yang masih menangis tersedu sambil memeluknya, mengusap rambut dek aster yang kriting dengan jari-jari mungilnya. rasanya hangat, dan memberi ketenangan kepada dek aster.      

hari itu, oddy dibawa pergi, kakaknya dibawa pergi oleh ayahnya sendiri, ayah yang dinanti-nanti setiap hari, kini datang membawa pergi oddy. siapa lagi orang yang akan dek aster tanyai kapan ibunya datang?, siapa lagi orang yang akan mengusap-usapnya dengan lembut yang menenangkan kesedihanya. apakah hidup memang tidak semenyenangkan ini?, kalau memang begitu, kenapa orang lain terlihat biasa-biasa saja, malahan dek aster lebih sering melihat orang lain tertawa-tawa, terlihat biasa bahagia tanpa beban, kenapa hanya dek aster yang merasa hidup ini tidak menyenangkan. entah kepada siapa dek aster bertanya, dia benar-benar telah ditinggalkan oleh orang-orang yang dikenalnya didunia yang tidak menyenangkan ini seorang diri.

***

aku melihat kemurungan diwajah ceria dek aster, aku menahan perasaan. tidak bisa membayangkan beratnya hidup yang harus dialami dek aster hanya dari melihat wajahnya. diusianya yang sangat tidak berdaya, entah masa depan seperti apa yang menjemput kehidupanya nanti. hidupnya sudah tidak sama lagi, dengan manusia dibelahan dunia manapun.

“dek, om punya kue, mau ngga?”, aku membuka obrolan dengan mengelus rambutnya yang masih keriting, kusut dan jarang disisir. dek aster mendongak dengan wajah polosnya, tidak ada jawaban, dia hanya menggigiti bibir dan memperlihatkan gigi kelincinya. aku menyobek wafer isi cokelat yang dari tadi tergeletak diatas meja, menyodorkanya, tangan mungilnya menyambutnya, lalu mengunyahnya pelan-pelan. tampak senyum di wajah dek aster, aku ikut tersenyum.

“enak ngga?” aku tanya, dek aster hanya mengangguk, menjilati sisa remah dipinggiran mulutnya yang belepotan. aku bersyukur saat itu aku ada disitu, menjadi teman dek aster, memberi sedikit keriangan untuk hidupnya. sedikit melupakan pelik kehidupan yang tidak menyenangkan.

%d bloggers like this: