dadang kurniawan

CEPRPEN / LIFE / MOMENT

Bintang Kesiangan

Orang-orang banyak memanggilnya aki Kandeg, terdengar bukan nama yang diberikan oleh orang tua. lagi pula, orang tua mana yang memberi nama anaknya Kandeg. dia adalah orang pertama yang akan menyerukan kepada orang-orang untuk bangun subuh, memukul kentongan dan berteriak keras membacakan doa bangun tidur sebanyak tiga kali. bukan hanya pada saat bulan ramadhan, beliau melakukanya dengan konsisten setiap hari. ki Kandeg tinggal di sebuah kampung bernama Bondan, kampungku sendiri bernama Cimahi. tepat disebelah kampungnya. tapi seruanya yang dia nyaringkan lewat pengeras suara di pagi buta terdengar diseluruh penjuru kampung. lebih pagi dari pada kokok ayam memulai tugasnya. aku belum pernah bertemu denganya. aku hanya mendengar dari banyak orang yang menjadikan suara ki Kandeg sebagai acuan waktu dimulainya kehidupan orang-orang dikampung itu.

Emak adalah seorang pedagang. setiap subuh, dia sudah bangun dan mulai mempersiapkan hal apa saja yang akan dilakukan pagi nanti untuk berjualan atau bersiap untuk pergi kepasar. seringnya juga aku mendengar suara piring, sendok, gelas dan perabot dapur yang bergelentrang bersiap untuk dibersihkan. disusul bunyi kayu berkeretek dilahap api dan habis terbakar, juga bising uap air panas bergemulak dari dalam dandang.

suara katrol yang dikerek terdengar ngilu, diikuti suara tumpah air dari satu ember ke ember yang lain, akan terdengar beberapa kali. itu adalah suara orang menimba air disumur belakang rumah, kemudian mulai terdengar percakapan dari beberapa orang. mereka adalah tetangga yang sudah memulai juga kehidupanya dihari itu.

aku memulai hari ditandai suara nyaring ki Kandeg, disusul aktifitas dapur yang dilakukan emak, aku belum masuk sekolah dasar saat itu, hal yang pertama aku lakukan setelah bangun adalah berjalan menuju hawu untuk menghangatkan badan, duduk berdiam diri memandangi api yang merembet memakan kayu dengan lahap, kadang-kadang, aku melihat sebuah filem dari kayu yang terbakar api itu, sebuah wajah yang aku imajinasikan dan mulai membayangkan sebuah dunia fantasi.

lalu aku keluar rumah, menunggu fajar, aku akan melihat bintang kejora di sebelah timur.  “itu bintang apa mak?”, aku polos bertanya kepada emak yang masih sibuk mencuci beras untuk dimasak.

“bintang kesiangan”. jawab emak tidak peduli dan tidak menoleh masih sibuk dengan kegiatanya.

aku pikir, benar dia adalah bintang kesiangan. aku memberitakanya kepada teman-temanku saat mereka membicarakan bintang yang sama juga.

aku mendadak prihatin dengan si bintang kesiangan : kenapa pula dia tidak bangun saat mendengar suara lantang ki Kandeg?, atau mungkin suara ki Kandeg yang tidak sampai langit?, bagaimana jika ki Kandeg yang pergi kelangit untuk membangunkan si bintang?, lagi pula, kenapa bintang tidak bangun saat mendenger suara emaknya bintang masak di dapur?, memangnya bulan diam saja tidak membangunkan bintang?, lalu, dimana bintang-bintang yang lain?.

aku seperti membayangkan betapa kesepianya bintang yang dibiarkan kesiangan oleh bulan, langit, bintang-bintang lain maupun semua benda-benda yang ada dilangit. aku mau jadi temanya bintang dan membangunkanya supaya tidak kesiangan. semenjak itu, aku sesekali mengajak si bintang kesiangan berbicara, memperkenalkan diri dan memperkenalkan suasana pagiku kepada bintang dan aku seringkali tersenyum setiap kali melihat bintang itu, serasa aku berteman denganya.

***

Tentu saja itu bukanlah bintang kesiangan, melainkan planet venus yang aku ketahui ketika mempelajari astrologi dibangku sekolah dasar kelas enam.

setelah shalat subuh dan tadarus saat bulan ramadhan, biasanya aku akan menemui si bintang kesiangan, memandang dan tersenyum kepadanya dan mengucap salam bahwa dia adalah seorang teman lama yang selalu aku temui saat menunggu fajar tiba, seorang teman yang bisa aku temui dimana saja dan berapa pun usiaku nantinya.

 

%d bloggers like this: